Dirjen KSDAE KLHK Launching Produk Binaan BTNW di Binongko

Please log in or register to like posts.
News
Dirjen KSDAE KLHK Launching Produk Binaan BTNW di Binongko

WAKATOBIDirjen KSDAE KLHK Launching Produk Binaan BTNW di Binongko. Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam (KSDAE) dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Wiratno bersama isteri menyambangi Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra).

Kunjungannya itu, dalam rangka Launching Produk Masyarakat binaan Balai Taman Nasional Wakatobi (BTNW) berupa hasil olahan abon ikan tuna serta berbagai produk kerajinan dan peresmian Kaombo (wilayah larangan penangkapan ikan) kawasan adat Sarano Wali Binongko, di Baruga (tempat pertemuan adat) Sarano Wali, Kelurahan Wali. Sabtu (10/11/2018) Kecamatan Binongko.

Dirjen KSDAE KLHK Launching Produk Binaan BTNW di Binongko

Dirjen KSDAE KLHK Launching Produk Binaan BTNW di Binongko
Ketgam: foto ersama-Dirjen KSDAE KLHK berfoto bersama masyarakat adat Binongko Kecamatan Binongko. Sabtu, (10/11/2018).

Lakina (ketua adat) Wali, La Ode Hasahu menyebutkan Kaombo atau larangan panangkapan Sarano Wali seluas sekitar 17 Hektare terdapat di kawasan Mbara-mbara Kelurahan Wali. Berfungsi sebagai kawasan konservasi sekaligus tempat pemijahan ikan termasuk habitat penyu hijau.

“Ada sanksi adat bagi yang melanggar di lokasi Kaombo,”katanya.

Dirjen KSDAE KLHK, Wiratno dalam acara tersebut diberi penghargaan berupa nama kebesaran, La Ode Ma’asi Alamu.

“La Ode Ma,asi Alamu, La berasal dari bahasa Buton artinya Lailahaillallah. Ode penghargaan kepada orang yang baik dan mulia perbuatannya, Ma’asi Alamu memiliki arti menyayangi isi alam,”jelasnya

Sementara dalam kesempatan itu, dirjen KSDAE KLHK Wiratno mengajak masyarakat Binongko bersama dengan BTNW saling mendukung kegiatan konservasi didaerah itu. Wiratno menyambut baik konsep Kaombo yang kini tengah dilakukan masyarakat adat Sarano Wali.

Ia mengatakan bahwa ini adalah salah satu contoh pengelolaan sumber daya alam yang arif dan bijaksana serta menghormati warisan leluhur.

“Kepada kita semua, saya mengajak untuk bersama menjaga taman nasional. Ini tentu harus kita dorong secara terus menerus untuk pengembangannya supaya banyak wisatawan yang datang. Ini juga tentunya berdampak positif kepada perekonomian masyarakat kita,”ujarnya

Kegiatan dilanjutkan dengan pelepasan 30 tukik/anak penyu usia satu bulan di pantai Yoro kelurahan Wali.

Dirjen KSDAE KLHK, Wiratno dalam acara itujuga diberi penghargaan berupa nama kebesaran, La Ode Ma’asi Alamu. La Ode Ma,asi Alamu, La berasal dari bahasa Buton artinya Lailahaillallah. Ode penghargaan kepada orang yang baik dan mulia perbuatannya, Ma’asi Alamu memiliki arti menyayangi isi alam.

Summary
Review Date
Reviewed Item
good
Author Rating
51star1star1star1star1star

Reactions

1
0
0
0
0
0
Already reacted for this post.

Suka ini?