Kasari Orangtua Murid, Oknum Guru Honorer SDN 39 Dituntut Pemberian Sanksi, Kepsek Diduga Sepihak

Please log in or register to like posts.
News

Kendari-Seorang guru honorer di SDN 39 Kendari, berinisial SA, beberapa waktu belakangan ini menjadi sorotan publik. Bukan karena prestasinya mendidik para murid, namun karena sikapnya yang jauh dari kesan ramah (kasar) terhadap orangtua murid berinisial SN.

Melansir dari salah satu media online, aksi arogansi SA itu bermula saat orangtua SN dan paman SN, Andi , mendatangi sekolah dengan maksud mengklarifikasi ke pihak sekolah terkait aduan dari ST, pengasuh SN, yang merasa keberatan atas sikap seorang guru lainnya. Mereka beritikad baik ke sekolah, untuk mencari kebenaran informasi dari pengasuh tersebut.

Saat mendatangi sekolah , Ayah SN didampingi salah satu kerabatnya masih disambut dengan ramah oleh para guru di sekolah tersebut, termasuk salah seorang guru lainnya yang disebut-sebut sempat bermasalah dengan pengasuhnya.

Persoalan lainnya yang timbul justru muncul dari sikap guru honorer berinisial SA. SA dianggap bersikap kasar dan cenderung apatis saat Ayah SN tengah berkomunikasi dengan guru lainnya.
Andi, yang pada saat insiden juga mendampingi ayah SN, bahkan sempat menegur oknum guru tersebut agar tidak menyela pembicaraan Ayah SN dengan para guru.

“Saya menegur baik-baik agar tidak menyela pembicaraan. Tapi dibalas dengan kata-kata kasar,”kata Andi.
Persoalan antara SA dan wali murid ini bahkan sempat dimediasi oleh salah satu perwakilan Asosiasi Profesi dan Keahlian Sejenis (APKS) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

Bukannya tuntas, mediasi tersebut justru semakin menambah rumit persoalan yang ada. Sebab mediasi APKSI PGRI ini disebut berat sebelah dan cenderung tidak netral menyikapi persoalan yang terjadi.
Menyikapi rentetan persoalan itu, Kepala Sekolah SDN 39, Rabiuhani pun ikut angkat bicara. Dia bahkan berdalih bahwa SA tidak mengeluarkan kata-kata kasar. SA menurutnya, hanya mempersilahkan orangtua murid untuk duduk.

“Saya hanya mendengar, begitu datang ada laporan. Saya dudukan semua, cerita persoalannya kronologisnya, dan kebetulan saksinya guru-guru semua, saya bilang jangan ada yang ditambahkan jangan ada yang dikurangi. Agar tidak terjadi tumpang tindih. Kronologis ibu itu tidak kasar. Namanya guru ya suaranya seperti itu tapi tidak ada tujuan untuk membuat orang lain seperti apa (tersinggung),”urai Rabiuhani, saat dihubungi oleh salah satu awak media, Selasa (23/7/2019).

Rabiuhani menilai, bahwa guru yang dianggap kasar ini tak seharusnya diberi sanksi. Menurutnya tak ada yang salah dengan sikap sang guru yang diduga tempramen itu. Dia bahkan berkelit, bahwa sikap yang SA tunjukkan adalah sikap yang tepat layaknya “tuan rumah” yang menyambut tamu.

“Mungkin juga yang dipersilahkan duduk merasa sedang dalam kondisi tidak baik, jadi kenapa saya harus beri sanksi? toh dia tidak melakukan apa-apa. Yang tau guru ini kan saya, saya tahu kesehariannya. Persoalan apa sehingga saya beri sanksi ke dia. Kecuali memukul orang, mencederai orang atau kasar seperti apa, kalo seperti itu paling saya panggil beri bimbingan,nasehat, agar kedepannya tidak seperti itu, tidak sewenang-wenang memberi sanksi,”urainya.

Selain itu, Rabiuhani juga menyinggung soal pemberitaan yang dianggapnya tak berimbang.
“Dari pemberitaan kemarin yang menyebut bahwa siti alam kasar itu tidak benar. Yang berdiri orangtua yang datang, dia berbicara sambil berdiri,etika seorang tuan rumah kan mempersilahkan duduk. Yang menulis itu juga tidak berimbang,karena tidak ada klarifikasi dari kami, hanya satu arah. Saya sebagai seorang pendidik saya pikir bagaimana keadaan bisa kondusif. Semua masih bisa diperbaiki secara persuasif. Waktu kejadian saya sedang rapat baznas. andaikan saya ada disitu mungkin lain persoalannya. Saya sudah biasa menghadapi persoalan seperti ini dan Alhamdulillah bisa diselesaikan,”urainya.

Sementara itu, kesaksian berbeda justru diungkapkan oleh Andi, pendamping sekaligus paman SN, yang mematahkan semua keterangan Kepala Sekolah tersebut. Menurutnya, baik gesture (bahasa tubuh) maupun perkataan SA, tak mencerminkan sikap seorang guru.

“Kepala sekolah hanya mendengar laporan dari para guru, sementara kami ada di tempat kejadian. Saat itu jelas-jelas guru yang bersangkutan (SA), bersikap tidak sopan kepada beliau (Ayah SN). Guru tersebut bahkan sempat ditegur guru lainnya,” beber mantan aktivis 98 ini.
Lanjut Andi, sikap SA terhadap ayah SN, jauh dari kesan seorang “tuan rumah” yang ramah terhadap tamu.

“Saya mendampingi Ayah SN itu datang ke sekolah dengan maksud baik, ingin menanyakan soal aduan pengasuh ponakan saya. Saya juga hadir disitu sebagai manajer HRD yang membawahi semua karyawan saya termasuk pengasuh ponakan saya ini,”ungkapnya.

“Bukannya menyambut niat baik kami, malah bahasanya terkesan nyolot, seperti orang yang tidak berpendidikan, tidak beretika, karena beberapa kali menyela pembicaraan dengan guru lainnya. Saya heran, padahal beliau tenaga didik. Itu yang membuat saya keberatan,”tuturnya.

Karena itu, Andi berharap agar pihak sekolah kembali menilik persoalan ini. Dirinya juga mengimbau agar pihak sekolah tidak anti kritik dan berat sebelah menyikapi persoalan serupa yang bisa saja menimpa orangtua murid lainnya.

“Saya bukanlah orang yang anti terhadap dunia pendidikan, saya bahkan memberikan peluang terhadap kemajuan pendidikan, salah satu contoh itu MoU pengembangan pendidikan dengan Universitas Halu Oleo kerjasama dengan SMK 6.Tapi ketika seorang guru sudah tidak bisa memberikan contoh yang baik, apalagi sampai berkata kasar seperti yang dilakukan Ibu guru itu, maka pihak sekolah harus memberikan sanksi, sebagai pelajaran agar tidak ada kejadian serupa.”pungkas mantan jurnalis ini.

 

penulis : erni

Editor : lala

Reactions

0
0
0
0
0
0
Already reacted for this post.

Suka ini?