Kearifan Lokal Budaya Bali

Please log in or register to like posts.
News
Kearifan Lokal Budaya Bali

Kearifan Lokal Budaya Bali – Merupakan satu dari beberapa nama pulau di Indonesia, yang lekat akan hal melestarikan warisan kebudayaan. Bukan hanya itu saja bahkan warga di Pulau Bali Memiliki beberapa tradisi yang dipegang teguh.

Walaupun sebahagian besar masyarakatnya menganut agama Hindu. Namun ragamnya suatu keyaninan di Pulau Bali tak menyurutkan kekerabatan antar masyarakatnya baik secara lahir maupun batin.

Kearifan Lokal Budaya Bali

Masyarakat bali memiliki suatu kesadaran yang mengikat mereka untuk mempertahankan akan keutuhan budayanya yang diperkuat dengan adanya persamaan bahasa. Hal tersebut juga yang menjadi utama kokohnya nilai kebudayaan meski banyaknya pengaruh modern hingga sampai saat ini. Berikut beberapa pendukung lainnya yaitu:

Tradisi Budaya Bali

Berikut dibawah ini ialah tradisi kebudayaan di bali.

Megibung

Kearifan Lokal Budaya Bali
(Sumber Foto: @wendiindrayana)

Megibung ialah sebuah tradisi makan bersama dalam satu wadah. Hingga sampai saat ini masyarakat melestarikan warisan leluhur mereka itu dengan tujuan untuk meningkatkan rasa kebersamaan dan kekeluargaan.

Tradisi ini biasa dilakukan pada acara-acara upacara adat tertentu maupun kegiatan keagamaan. Seperti halnya yang terlihat pada gambar diatas. Saat hari raya galungan berlangsung beberapa minggu lalu mereka pun tak lupa untuk mengadakan Megibung. Terlihat sederhana namun dapat mempererat persahabatan bahkan kepada orang yang baru dikenal sekalipun. Tradisi Megibung biasa dimaknai dengan adanya jumlah undangan yang makan dalam satu wadah terdiri dari 5-8 orang. Kemudian sebuah nasi putih yang diletakkan dalam satu wadah disebut gibungan, sedangkan lauk dan sayur yang akan disantap disebut karangan. Dengan harapan untuk tetap memperkokoh suatu nilai kebudayaan.

Pemakaman di Terunyan

Kearifan Lokal Budaya Bali
(Sumber foto: @mujiwasono)

Kali ini satu tempat yang selalu menegakkan satu tradisi dari turun temurun. Melalui upacara ritual di pemakaman terunyan tepatnya beralokasi didesa Terunyan, Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali.

Desa Terunyan merupakan desa tertua di pulau bali. Tak heran jika kamu berkunjung kesana, Masyarakat masih memegang teguh kuat tradisi budaya.

Faktanya, tradisi pemakaman dibali dengan dua cara yaitu jasad orang yang sudah meninggal dikubur atau dibakar. Namun di desa ini sangat jauh berbeda. Mereka memperlakukan tubuh yang baru meninggal hanya dengan dibungkus Kain. Dan langsung diletakkan diatas tanah tepat dibawah pohon Menyan. Atau warga biasa menyebutnya Taru Gunanya untuk menyerap bau dari tubuh mayat. Kemudian tanpa dikubur dan hanya di kelilingi dengan anyaman bambu seukuran dengan tubuh mereka.

Uniknya di pemakaman ini sudah terbiasa menjadi destinasi wisatawan lokal maupun asing. Kebanyakan dari mereka yang berkunjung hanya sekedar berfoto di dalam area kuburan sambil melihat langsung upacara pemakaman. Sedikit menegangkan namun wisatawan selalu penasaran dengan hal tersebut.

Perang Ketupat Tradisi Adat

Kearifan Lokal Budaya Bali
(Sumber foto: @abp_logy)

Satu lagi keunikan yang ada di Bali ialah Perang ketupat. Tradisi ini dilakukan setahun sekali. Moment sangat penting khususnya bagi warga desa Kapal, Kabupaten Badung, Bali. Upacara tradisi ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur masyarakat akan hasil panen yang diberikan tuhan. Setiap Tahun mereka melakukan Tradisi perang ketupat dengan harapan kesejahteraan dan keselamatan desa.

Keunikan dari tradisi ini adalah menjadi sorotan bagi wisatawan lokal. Pesta adat ini merupakan gambaran bentuk dari Kearifan Lokal Budaya Bali.

Tradisi Keagamaan di Bali

Berikut dibawah ini ialah tradisi yang dilakukan warga bali khususnya saat melakukan kegiatan keagamaan.

Dupa

Kearifan Lokal Budaya Bali
(sumber foto: @dupamahabeji)

Dibali khususnya agama Hindu yang melakukan persembahyangan dengan menggunakan Dupa. Hingga saat ini bukti Kearifan Lokal Budaya Bali dipegang teguh pada khususnya tradisi masyarakat saat melakukan keagamaan yaitu Dupa. Dupa sejenis pewangian yang dapat dibakar. Kemudian asapnya mengeluarkan bau harum dengan tujuan melambangkan sebuah perantara menghubungkan mereka dengan yang dipuja.

Canang

Kearifan Lokal Budaya Bali
(sumber foto: @dheyanne06)

Sebuah Canang pun sangat penting digunakan saat persembahyangan. Belum lama ini Canang banyak digunakan di hari raya galungan. Banyak makna yang tersimpan dari Canang tersebut yang terbagi dari beberapa bagian yaitu:

Alas berupa Ceper menyimbolkan Ardha Candra. alas yang disebut tamas kecil ialah simbol windhu.

Kemudian Beras /Wija yang melambangkan benih yang mengartikan awal dari kehidupan.

Porosan/Peporosan merupakan terbuat dari daun sirih, kapur, dan jambe (gambir). Yang mempunyai makna umat manusia harus memiliki hati penuh cinta. Dan welas asih serta rasa syukur yang mendalam pada sang yang dipuja.

Jajan, Tebu, dan Pisang yang memaknai kekuatan dalam kehidupan di alam semesta.

Sampian Uras atau Duras merupakan rangkaian janur yang dibentuk bundar dengan makna yang menyertai setiap kehidupan umat manusia.

Bunga yang diletakkan melambangkan kedamaian serta ketulusan hati.

Bija / Wija

Kearifan Lokal Budaya Bali
Sumber foto: @infobadung)

Wija atau bija biasanya dibuat dari biji beras yang dicuci dengan air bersih atau air cendana. Kadangkala juga dicampur kunyit sehingga berwarna kuning.

Bija / Wija memiliki makna tersendiri bagi bagi seseoarang yang menggunakannya. Dengan kata lain hal tersebut mendalami makna Menumbuh kembangkan benih ke-Siwa-an itu dalam diri seseorang.

Penggunaan Bija merupakan simbol dari anugerah yang diberikan Tuhan terhadap umatnya. Meletakkan BIja sesuai dengan tempatnya akan memberikan dampak yang maksimal.

Baca juga: Objek Wisata Terbaru di Pulau Bali

Summary
Review Date
Reviewed Item
Recomended
Author Rating
51star1star1star1star1star

Reactions

0
0
0
0
0
0
Already reacted for this post.

Suka ini?