Kepsek SMP 10 Bantah Tuduhan Pungli

Please log in or register to like posts.
News
Kepsek SMP 10 Bantah Tuduhan Pungli

Kendari, Ruangmedia Kepsek SMP 10 Bantah Tuduhan Pungli Ditunjuknya Sekolah Menegah Pertama (SMP) Negeri 10 Kendari sebagai peyelenggara Ujian Berbasis Komputer (UNBK) di Kota Kendari, mengharuskan pihak sekolah untuk melengkapi semua kekurangan fasilitas komputer untuk terlaksananya UNBK tersebut.

Dalam proses untuk melengkapi kekurangan tersebut, pihak sekolah dituding telah melakukan praktek Pungutan Liar (Pungli) seperti yang telah dilaporkan kepada Ombudsman RI, Sulawesi Tenggara (Sultra), pasalnya pihak sekolah diduga memanfaatkan nama Komittee sekolah untuk melibatkan partisipasi orang tua siswa dalam melengkapi kekurangan tersebut dengan membebankan sejumlah pembayaran bagi siswa peserta UNBK.

Menanggapi hal tersebut, Ruslan L selaku Kepala Sekolah (Kepsek) SMP 10 Kendari membantah tuduhan dugaan pungutan liar yang disangkakan kepadanya. Menurut Ruslan, pungutan liar yang dikatakan oleh oknum orang tua siswa tersebut berkaitan dengan ditunjuknya SMP 10 sebagai penyelenggara Ujian Berbasis Komputer (UNBK), dalam persiapannya sebagai penyelenggara UNBK, pihak SMP 10 telah menerima bantuan pengadaan komputer sejumlah 22 unit, namu bantuan tersebut belum cukup untuk menampung 226 siswa peserta UNBK.

Kepsek SMP 10 Bantah Tuduhan Pungli
Kepsek SMP 10 Bantah Tuduhan Pungli

“Bahwa laporan orang tua siswa seperti yang tertulis di media tersebut adalah tidak benar, ini bisa jadi orang tua siswa yang memberikan informasi kepada Ombudsman itu dia tidak hadir pada rapat komittee dan mendapatkan informasi yang tidak jelas pada orang yang hadir,” kata Ruslan, Sabtu (28/1/2018).

Lebih lanjut Ruslan mengatakan, pembiayaan yang melibatkan orang tua siswa sejumlah 200 ribu untuk pengadaan kelengkapan komputer dan jaringan internet tersebut telah disepakati dalam rapat komittee yang diikuti oleh orang tua siswa pada 22 Januari 2018 lalu di aula SMP 10. Dalam rapat tersebut, pihak sekolah tidak mematok nominal dan tidak memberikan batas waktu pembayaran kepada orang tua siswa.

“Tidak ada batas waktu pembayaran, kita juga tidak menyebutkan nominal yang harus dibayar orang tua siswa, yang disebut 200 ribu persiswa itu sebenarnya adalah angka yang dibulatkan, dari kesepakatan 177 ribu dibulatkan menjadi 200 ribu dan itu sudah kesepakatan orang tua siswa pada rapat komittee, dan ketika ada orang tua siswa yang tidak mampu membayar, kita tidak memaksa, yang penting dia melapor dulu sama kita, yang penting niatnya kita supaya semua siswa bisa ujian,” ungkapnya.

Dalam rapat tersebut pihak sekolah menyampaikan kepada orang tua siswa terkait minimnya alat pendukung SMP 10 sebagai penyelenggara UNBK, antara laIn kurangnya Server, Switch kemudian kabel LAN.

“Jadi yang kita butuhkan sekarang adalah alat pendukungnya itu dan kita sudah rinci semuanya bahwa jumlahnya sekian, switchnya harganya sekian, kabel LANnya sekian, dan semuanya itu harganya kisaran 40 juta, kemudian saya sampaikan kepada ketua komittee bahwa kita membutuhkan alat-alat ini dan dananya yang kita butuhkan adalah sekian, kemudian kita rapat dan saya sampaikan kepada orang tua siswa sesuai dengan hasil rincian, setelah itu orang tua siswa sendirilah yang menentukan berapa jumlah sumbangan yang akan diberikan,” paparnya

Untuk diketahui , saat ini pihak SMP 10 telah memiliki kurang lebih 30 Komputer siap pakai namun jumlah tersebut belum cukup menampung 226 peserta UNBK, dari hasil rapat Komittee, orang tua siswa sudah mulai melakukan pembayarak kepada pihak sekolah dan dana yang telah terkumpul senilai 8.100.100 rupiah dari 49 orang tua siswa yang telah membayar.

 

Reporter: Er

Summary
Review Date
Reviewed Item
recommended
Author Rating
51star1star1star1star1star

Reactions

0
0
0
0
0
0
Already reacted for this post.

Suka ini?