Oknum Kepolisian Diduga Terlibat Aktifitas Tambang Liar

Please log in or register to like posts.
News
Oknum Kepolisian Diduga Terlibat Aktifitas Tambang Liar

KENDARI, RuangmediaOknum Kepolisian Diduga Terlibat Aktifitas Tambang Liar. Aktifitas penambangan pasir sungai di wilayah Desa Pebunooha Dalam, Kecamatan Bondoala, Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) diduga sebagai aktifitas penambangan liar.

Bukan hanya itu, masyarakat setempat juga menduga, ada oknum Kepolisian Sektor (Polsek) Bondoala yang ikut terlibat dalam aktifitas penambangan liar tersebut.

Hal itu diungkapkan oleh salah satu pemuda Bondoala, Aswan saat ditemui di Mapolda Sultra. Mewakili  seluruh masyarakat Bondoala, Aswan mengatakan, pihaknya menduga kuat, aktifitas penambangan liar tersebut diback up oleh Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Bondoala, IPDA. La Ode Arsangka beserta oknum Polsek Bondoala lainnya.

“Yang terlibat Kapolsek sendiri karena tanggal 12 Januari 2018 lalu, Kapolsek sudah meninjau lokasi penambangan ilegal itu, tapi habis peninjauan hari ini, besoknya melakukan penambangan lagi,” ungkap Aswan, Kamis (25/1/2018).

Oknum Kepolisian Diduga Terlibat Aktifitas Tambang Liar
Ketgam: Aksi demo dalam kasus Oknum Kepolisian Diduga Terlibat Aktifitas Tambang Liar

Bukan hanya itu, bikti lain yang memperkuat dugaan tersebut yaitu pada tanggal 23 Januari 2018 Kapolsek Bondoala bersama oknum pemilik fasilitas tambang kembali meninjau lokasi tambang, namun keesokan harinya aktifitas penambangan masih terus dilakukan.

“Terus pada hari Selasa tanggal 23 itu turun dari Kapolsek Bondoala bersama anggota pak Karimudin yang merupakan pemilik mesin pasir itu, mereka turun ke lapangan dan mengambil dokumentasi, tapi  besoknya setelah peninjauan masih juga dilaksanakan kegiatan penambangan itu, berarti disini ada terjadi konspirasi,” lanjutnya.

Akibat aktifitas penambangan yang sudah dilakukan selama kurang lebih 3 minggu tersebut, telah menimbulkan berbagai dampak negatif bagi masyarakat, pasalnya lokasi penambangan hanya berjarak kurang lebih 100 meter dari pemukiman warga.

“Lokasi penambangnan dekat dengan pemukiman warga sekitar kurang lebih 100 meter, dampaknya kepada masyarakat pertama polusi udara, kemudian pencemaran lingkungan utamanya lingkungan air, yang ketiga terjadinya erosi,” papar Aswan.

Menurut Aswan, sebelum para penambang datang dan meletakkan mesin penyedot pasir di atas permukaan sungai yang saat ini telah menjadi lokasi tambang pasir, masyarakat setempat telah lebih dulu merencanakan pembangunan sumber air bersih untuk disalurkan kepada warga Desa Pebunooha dalam dan sekitarnya.

“Jadi itu titik yang sekarang dijadikan lokasi penambangan pasir ilegal itu adalah merupakan titik dimana kita nanti akan menjadikan sumber air bersih untuk disalurkan kepada masyarakat,” lanjutnya.

Menanggapi hal itu, Pihak Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Diteskrimsus) Polda Sultra mengatakan akan sesegera mungkin menindak lanjuti kebenaran informasi tambang liar tersebut.

“Mengenai informasi tersebut, kita belum bisa mengambil kesimpulan, tapi untuk membuktikannnya kita akan uji kebenarannya dengan menurunkan tim untuk memeriksa pelaku panambangan,” ujar  Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dir Reskrimsus) Polda Sultra, Kombes Pol Wira Satya Tri Putra.

 

Reporter: Er

Summary
Review Date
Reviewed Item
Recomended
Author Rating
51star1star1star1star1star

Reactions

0
0
0
0
0
0
Already reacted for this post.

Suka ini?