Sembilan Negara Bakal Study Pengolaan Perikanan di Wakatobi

Please log in or register to like posts.
News
Sembilan Negara Bakal Study Pengolaan Perikanan di Wakatobi

WAKATOBISembilan Negara Bakal Study Pengolaan Perikanan di Wakatobi. Sebanyak sembilan negara, akan ke Kabupaten Wakatobi, guna belajar pengalaman pengolaan perikanan, juga konservasi sumberdaya kelautan dan perikanan.

Sembilan Negara Bakal Study Pengolaan Perikanan di Wakatobi tersebut adalah Mozambique, Amerika Serikat, Columbia, Mexico, Inggris, Filipina, Australia, Brazil, dan Spanyol.

Hal itu dikatakan Vice President RARE Indonesia Taufik Alimi di Kecamatan Wangiwangi Selatan (Wangsel). Senin, (22/1/2018).

Sembilan Negara Bakal Study Pengolaan Perikanan di Wakatobi
Ketgam : Taufik Alimi – Vice President RARE Indonesia

“Selain itu mereka juga akan merumuskan langkah ke depan untuk program sejenis di Brazil, Mozambique, Filipina dan Indonesia.
Rare itu organisasi LSM berbasis di Amerika yang memiliki tujuan untuk membantu penyelamatan sumberdaya alam, khususnya sumberdaya alam yang berasal dari laut, termasuk perikanan, karang dan sebagainya,”ujarnya

Lebih lanjut Taufik menjelaskan, keberhasilan di Liya dan di Mola, itu akan ditengok oleh kawan-kawan kita dari berbagai negara, mereka juga sedang menjalankan dan ada yang sudah selesai seperti kita dari filipina, ada yang baru mulai, dari Brazil mozambik Amerika. Nah yang hadir disini orang yang hadir program itu. Tetapi yang bekerja di Amerika, yang bekerja di mozambik,di Filipin dan Brazil itu berasal dari berbagai Negara.

Ia menyebutkan jika pihaknya memiliki program khusus yang namanya fish forever atau ikan sepanjang zaman. Yang program tersebut punya ciri khas, yaitu mengajak masyarakat untuk membentuk atau mentaati daerah-daerah yang tidak boleh dilakukan penangkapan.

“Rumah, kamar ibu bapak kita jangan diganggu, kalau diganggu tidak akan bisa gitu-gitu kan tidak bakal punya anak kan. Nah supaya ikan bisa gitu-gitu, rumah dan kamarnya jangan diganggu. Itulah yang namanya Daerah perlindungan laut (DPL) dan itu ada dipulau Sumanga, Kecamatan Wangsel. Disana kamarnya ikan, supaya tidak kita ganggu. Tetapi kalau DPL nya memberikan ikan melimpah namun semua orang ngambil, kasihan orang Liya yang sudah menjaga. Karena itulah dibuat daerah yang namanya Pengelolaan Akses Area Perikanan (PAAP), yang dikhususkan untuk warga liya raya,”jelasnya.

Mengapa Liya yang dipilih, kata dia, karena yang pertama, adalah hasil komunikasi dengan Dinas perikanan sebelumnya untuk mengajak bagaimana membuat program yang baik.

“Nah ketika program ini hendak dijalankan, kita melihat lokasi mana yang punya kesiapan. Banyak orang yang minta tetapi minta bukan berarti mampu, nah siapakah yang mampu, tentu mereka yang mau bekerja keras yaitu masyarakat dari Liya raya, dengan dukungan dari miantuu dan lembaga adat keberhasilannya makin cepat,”ucapnya.

Sambungnya, sama halnya juga ditempat lain yaitu di Mola, di Mola ini dikerjakan oleh balai taman nasional wakatobi (BTNW) itu juga kita kerjakan karena kesiapan dari masyarakat sana. Walaupun sulit kan orang bajo kadangkala tetapi bisa juga.

“Jadi yang kami lakukan dari RARE itu adalah mengajak masyarakat, jadi kita tidak melarang jangan begini dan jangan begitu tetapi kita menggerakan masyarakat supaya sadar. Dari sadar otaknya terbuka hatinya lalu mereka bersedia menjaga, itu yang kami lakukan,”tandasnya.

Tambahnya, berdasarkan laporan yang kami terima, tangkapan mereka meningkat, jumlah ikan yang ada dilaut meningkat cukup besar hingga 10 kali lipat dengan adanya rumah ikan yang tidak diganggu tadi. Itu beranak pinaknya lebih cepat. Dan jangan memancing dibulan tertentu, pada saat ikan kerupannya beranak pinak jangan diganggu biar bertelur dulu. Jadi inilah hasil positifnya mengenai hal Sembilan Negara Bakal Study Pengolaan Perikanan di Wakatobi berupa tangkapan meningkat dan pendapatan meningkat.

 

Reporter : SR

Summary
Review Date
Reviewed Item
Recomended
Author Rating
51star1star1star1star1star

Reactions

0
0
0
0
0
0
Already reacted for this post.

Suka ini?